. Gospel Highway
Reformed Baptist Churches Malaysia
News &Updates

Archive
 
 
 

Haruskah Orang Kristen Menggunakan “Allah”? (Roma 1:18-25)
Versi Cetakan PDF


Siapakah “Allah” itu? Apakah ia sesembahan orang Muslim? Atau apakah Ia Sesembahan orang Kristen juga? Apakah orang Kristen and Muslim menyembah Sesembahan yang sama ketika mereka menggunakan nama yang sama, “Allah”? Atau apakah mereka menyembah dua sesembahan yang berbeda dengan menggunakan nama yang sama? Haruskah orang Kristen menggunakan “Allah” sebagai nama Sesembahan yang hidup dan yang benar? Bukankah orang Kristen di tanah Arab sudah lama menggunakan “Allah” untuk mengacu kepada Sesembahan sebelum agama Islam berkembang?

Pertanyaan apakah orang Kristen harus menggunakan “Allah” untuk mengacu kepada Sesembahan telah muncul di Malaysia dan Indonesia - dua buah negara yang menggunakan bahasa-bahasa yang sama rumpun, dan yang masih sama pada sebagian besarnya. Bagaimanapun, permasalahan apakah boleh atau tidak nama “Allah” digunakan oleh orang Kristen untuk mengacu kepada Sesembahan muncul dari latarbelakang yang berbeda dalam kedua buah negara itu. Perbedaan latarbelakang ini harus dipaham dengan jelas supaya usaha-usaha untuk mencari solusi bersama tidak akan menyebabkan Kristen kedua buah negara saling salah faham.

Usaha yang kuat telah dibuat untuk mencari solusi kepada permasalahan yang terdapat di dua negara tersebut menurut keadaan masing-masing. Setahu saya, belum ada usaha menyeluruh untuk mencari solusi kepada permasalahan yang sama yang muncul dari keadaan yang berbeda itu. Adalah menjadi tujuan saya untuk coba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dibentang di atas. Saya akan berbuat demikian dengan memberikan sedikit latar belakang permasalahan di setiap negara tersebut, dengan mempertimbangkan soal-soal bahasa dan teologi yang bersangkutan, dan dengan mengusulkan suatu solusi.

I. Keadaan Yang Berbeda Dari Sudut Sejarah
Pada umumnya terdapat sebuah kesepakatan bahwa orang dari Nusantara Melayu, selain daripada penduduk perpindahan baru, mempunyai kesamaan keturunan, meskipun tiada kesepakatan mengenai asal-muasal mereka. Suatu pandangan umum ialah bahawa orang-orang ini pada mula-mulanya berpindah ke arah selatan dari China Tengah, dan mereka berketurunan Mongolia-Tibet.

Nusantara Melayu juga mempunyai kesamaan sejarah. Sriwijaya adalah suatu kerajaan Melayu lama yang bertapak di Palembang di pulau Sumatra. Sepanjang kekuasannya yang lama, dari abad ke 7 sampai ke 13, pemerintahannya meliputi kawasan yang besar termasuk Sumatra, Jawa Timur and Semenanjung Melayu. Ia menguasai Selat Melaka dan Selat Sunda, dan oleh itu perdagangan rempah-rempah. Kebudayaan Melayu tersebar meliputi Sumatra, Semenanjung Melayu and Kalimatan Barat. Kerajaan Sriwijaya adalah kubu kuat Budha aliran Mahayana.

Kerajaan Majapahit yang bertapak di Jawa Timur berkuasa dari tahun 1293 sampai sekitar 1500. Ia merupakan kerajaan Hindu yang terakhir dan yang paling kuat di Indonesia. Pengaruhnya meliputi daerah selatan Semanjung Melayu, Borneo, Sumatra, Bali and Filipina. Kerajaan Majapahit mengambil alih Palembang dari kerajaan Sriwijaya pada tahun 1377 dan mengakhiri kerajaan Sriwijaya. Sekitar waktu kerajaan Majapahit didirikan, pedagang-pedagang dan mubalih-mubalih Islam mulai menjangkau ke daerah itu. Kerajaan itu mulai menjadi mundur karena peperangan rebutan kuasa yang bermula pada 1401. Ia akhirnya runtuh pada tahun 1478 dengan munculnya kesultanan Melaka.

Bukti tertua yang menunjukkan perkembangan Islam secara berkesan terdapat pada abad ke 13 di bagian Utara Sumatra. Islam berkembang ke seluruh Indonesia secara beransur-ansur melalui perdagangan. Pada akhir abad ke 16, Islam telah menjadi agama yang dominan di Jawa dan Sumatra. Kesultanan Melaka memainkan perananan yang penting dalam perkembangan Islam di seluruh Nusantara Melayu. Kesultanan-kesultanan Melayu yang lain - termasuk yang berada di Aceh (1493-1903), Banten (1526-1813), dan Mataram (sekitar 1500 - sekitar 1700) - semua membelakangi kesultanan Melaka.

Pendiri Kesultanan Melaka ialah Parameswara, seorang putra kerajaan Sriwijaya di Palembang yang melarikan diri dari Sumatra oleh karena serangan Majapahit pada tahun 1377. Beliau menjadikan Singapura sebagai kubunya, tetapi terpaksa melarikan diri oleh karena serangan orang Siam. Ia menetap di Melaka pada tahun 1394. Pada tahun 1414, ia menganuti agama Islam dan mengubah namanya menjadi Raja Iskandar Shah. Ia menjadikan Melaka sebagai perlabuhanan antarabangsa yang penting dan pusat dari mana berkembangnya Islam ke seluruh Nusantara Melayu. Kesultanan Melaka mengadakan hubungan dengan China untuk pertahanan dari serangan orang Siam. Pada waktu ini, bersamaan dengan eksplorasi laut Laksamana Zheng-he dari Dinasti Ming di China, banyak orang-orang Cina menetap di Melaka.

Kesultanan Melaka berkuasa dari tahun 1400-1511. Orang Portugal menjajah Melaka dan sebagian besar Indonesia dari tahun 1512-1850. Di Melaka, orang Belanda mengalahkan orang Portugal pada tahun 1641 dan memerintah di sana sampai 1795. Orang Belanda, bagaimana pun, lebih tertarik menjadikan Batavia (Jakarta) sebagai pusat administrasi mereka. Dari tahun 1602 sampai 1942, orang Belanda mengusir orang Portugal dan memerintah apa yang sekarang ialah Indonesia. Pada tahun 1824, Melaka diberikan kepada Inggris melalui Perjanjian Inggris-Belanda dengan pertukaran Bengkulu di bagian barat daya Sumatra. Negeri Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, setelah melawan gerakan kemerdekaan sampai tahun 1949. Kedua negara ditakluki seketika oleh orang Jepang dari tahun 1942-1945.

Kegiatan perkembangan Islam di rantau ini bermula pada abad ke 13, sementara kegiatan misionaris Kristen bermula dari abad ke 16. Pada waktu sekarang, Indonesia mempunyai orang Muslim yang terbanyak dalam dunia. Indonesia mempunyai populasi hampir 240 juta, yang dimana 86% adalah Muslim dan 9% Kristen. Malaysia mempunyai populasi 25 juta yang dimana 60% adalah Muslim and 9 % Kristen. Lainnya adalah orang Hindu, Budha, animis, dll.

Kita memberi kesimpulan sebelum bergerak lebih jauh. Orang asli Nusantara Melayu mempunyai kesamaan keturunan. Bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia mempunyai asal usul yang sama. Sejarah kedua negara banyak saling meliputi. Kedua negara dipengaruhi agama Islam mulai abad ke 13. Indonesia dibawah pengaruh Belanda selama tiga abad sebelum mencapai kemerdekaan. Malaysia dibawah pengaruh Inggris selama satu-setengah abad sebelum mencapai kemerdekaan. Faktor-faktor ini telah mempengaruhi dengan agak besar terhadap bahasa Indonesia dan bahasa Melayu masa kini. Sementara mempertimbangkan penggunaan kata-kata agama, dan terutamanya nama Sesembahan, pengaruh-penagaruh ini harus diingati.

Di Malaysia
Ketika Malaysia mencapai kemerdekaan dari Inggris, ketiga-tiga suku bangsa - iaitu Melayu, Cina, dan India - bersetuju untuk menerima suatu Perlembagaan (Konstitusi) yang menimbulkan latarbelakang sosio-politik yang relevan dengan diskusi kita mengenai penggunaan istilah-istilah agama. Orang-orang Melayu adalah Muslim secara hukum. Islam adalah agama rasmi negara sementara agama-agama yang lain boleh dianuti secara bebas. Bahasa Melayu adalah bahasa rasmi negara. Sultan-sultan dan gubernur-gubernur adalah kepala agama Islam di negeri (provinsi) masing-masing. Perlembagaan juga membolehkan setiap negeri mengadakan hukum untuk membendung penyebaran agama yang lain kepada orang Muslim. Bagaimana pun, tidak ada hukum seperti itu diluluskan, sampailah tahun 1980an. Perlembagaan juga menetapkan kedudukan istimewa orang-orang Melayu, dan sultan-sultan, yang tidak boleh dicabar. Kesemua hukum-hukum ini tertakluk sedikit sebanyak kepada tafsiran, tetapi tujuan-tujuan utama mereka adalah jelas.

Kerusuhan suku bangsa pada tahun 1969 menyebabkan pembentukan suatu kebijaksanaan affirmasi untuk membetulkan apa yang dianggap ketidakseimbangan di antara suku-suku bangsa, supaya orang Melayu yang mayoritas dapat bersaing secara adil dengan orang bukan-Melayu yang lebih kuat dari sudut ekonomi. Sehingga sekarang, kebijaksanaan ini menjadi bahan ketidakpuasan kepada orang bukan-Melayu, dan sesuatu yang memalukan kepada banyak juga orang Melayu. Orang bukan-Melayu tidak mempertikai kedudukan istimewa sultan-sultan, bahasa kebangsaan, dan agama rasmi itu. Bagaimana pun, tindakan-tindakan affirmasi itu telah ketelanjuran dari tujuan asalnya sehinggalah pelaksanaannya telah memberikan gambaran yang jelas baik kepada warga negara maupun orang asing bahwa ini adalah sebuah negara yang rasis. Banyak anak muda telah melanjutkan pelajaran di luar negara dan enggan pulang, banyak keluarga kelas menengah telah memindah ke luar negeri, dan banyak pengusaha-pengusaha yang sukses telah memindahkan bisnis-bisnis mereka ke negeri lain. Pengaliran orang-orang pintar dari negeri pernah menjadi suatu perkara yang membimbangkan, tetapi tindakan yang diambil untuk mengatasinya tidak sungguh-sungguh.

Pada bulan Disember 1981, pemerintah Malaysia megeluarkan suatu hukum yang melarangkan “pencetakan, penyebaran, penjualan, pengeluaran, pengedaran atau pemilikan Alkitab dalam bahasa Indonesia” oleh karena ini dianggap “menggugat kepentingan negara dan keselamatan Persekutuan”.1 Akibat dari bantahan pemimpin-pemimpin Kristen, pemindaan-pemindaan dibuat dalam bulan Maret 1982 supaya larangan-larangan itu tidak berlaku bagi gereja-gereja dan orang Kristen. Adalah dipersetujui juga bahwa Alkitab boleh diimpor oleh sepuluh pusat Kristen di Malaysia yang disahkan.

Pada bulan Juni 1980 dan Disember 1981, negeri Terengganu dan Kelantan meluluskan hukum-hukum yang melarang orang bukan-Muslim menarik masuk orang Muslim.2 Hukum-hukum tersebut mengandungi daftar kata-kata dan ungkapan-ungkapan agama yang terlarang untuk agama-agama bukan-Islam. Di antara yang lain, terdapat kata-kata Allah, firman, ibadah, ilahi, dan wahyu. Pada tahun 1986, Kementerian Dalam Negeri juga membuat daftar kata-kata terlarang. Bantahan dari pemimpin-pemimpin Kristen menyebabkan kata-kata itu di kurangkan dari enam-belas kepada empat. Empat kata yang terlarang ialah Allah, Baitullah, Kaabah, dan solat. Daripada empat kata ini, orang Kristen hanya menggunakan satu, iaitu Allah. Adalah jelas bahwa di antara kata-kata yang digunakan oleh orang Kristen, Allah adalah yang paling tidak disetujui oleh pihak pemerintah.

Pada tahun 1987, hubungan antara suku-suku menjadi sangat tegang disebabkan oleh kegiatan politikus-politikus sehinggalah pihak polisi terkena bertindak. Dalam operasi polisi yang keji, yang bernama “Operasi Lalang” (lalang ialah sejenis rumput yang liar dan tidak diingini), lebih 200 pemimpin dari pelbagai organisasi ditangkap polisi di bawah hukum kontroversial yang bernama Akta Keselamatan Negara (1960). Di Malaysia, suku dan agama adalah dua perkara yang dianggap “sensitif”, yang sentiasa dieksploitasi oleh politikus-politikus untuk kepentingan diri. Di dalam keadaan tegang tahun 1987, seorang politikus telah mengakui bahwa ada kuranglebih 70,000 orang Melayu yang telah menganuti agama Kristen. Tentu saja, ini tidak benar karena hanya terdapat segelintir orang Melayu yang telah pindah agama, dan menghadapi kesulitan besar akibatnya. Seorang sultan di sebuah negeri di Malaysia mengeluarkan kenyataan bahwa tiga ancaman paling besar kepada negara adalah agama Kristen, komunisme, dan ketagihan narkotis, dalam urutan itu. Berikutan “Operasi Lalang”, semua negeri di Malaysia, kecuali Sabah dan Sarawak yang mempunyai bilangan Kristen yang agak besar, telah meluluskan hukum-hukum yang melarang penarikan masuk orang Muslim. Bersama larangan ini ialah larangan penggunaan sesetengah kata, termasuk Allah, dalam konteks bukan-Muslim.

Di Indonesia
Dibandingkan dengan Malaysia, yang mencapai kemerdekaan dari Inggris dalam tahun 1957, Indonesia mencapai kemerdekaan dari Belanda sepuluh tahun lebih awal, ia itu pada tanggal 17 Agustus 1945. Sungguh pun Belanda hanya mengaku tanggal itu sebagai hari kemerdekaan Indonesia lima tahun kemudian, hal ini tidak ada kesan terhadap diskusi kita di sini. Berbeda dari Malaysia, Indonesia tidak terdiri atas suatu Konstitusi di mana terdapat unsur-unsur yang boleh dianggap berdiskriminasi dari sudut suku atau agama. Demokrasi ala-Barat diadopsi awal-awal lagi dan dipraktek dari 1950 ke 1957, tahun Malaya mendapat kemerdekaan menjadi negara baru Malaysia. Bagaimanapun, demokrasi telah dilumpuhkan dibawah kepimpinan Sukarno, dari 1957 ke 1965, sewaktu beliau menganuti sikap anti-barat sambil mendampingi Rusia dan China, iaitu dua gergasi komunis waktu itu.

Persengketaan suku dan agama yang agak besar pernah berlaku sejak zaman pemerintahan Belanda melewati terus sampai zaman lepas-Kemedekaan. Suku-suku asli Indonesia selalu menanggap suku Cina sebagai terlalu kaya dan rakus. Persengketaan yang sporadis akhirnya menbeku menjadi pogrom yang diatur oleh pemerintah terhadap orang keturunan Cina apabila Suharto merebut kuasa pada tahun 1965. Histeria anti-komunis pada waktu itu menyebabkan orang keturunan Cina di Indonesia, karena hubungan mereka dengan Republik Negri China, dianggap musuh di bawah selimut. Beberapa hukum anti-Cina dikeluarkan yang membendung kebudayaan dan hak penduduk Cina, termasuklah hukum-hukum yang mengharuskan sekolah-sekolah Cina ditutup, pengadopsian nama-nama yang mirip bunyi “Indonesia”, dan penyekatan berat terhadap pembangunan kuil-kuil Budha. Suatu pogrom anti-Cina yang besar berlaku pada tahun 1998.

Kerusuhan agama juga terjadi pada waktu yang sama di seluruh negeri yang luas itu. Di Kalimantan terjadi sebuah pertempuran antara orang Madura Muslim dan orang Dayak Kristen pada bulan Desember 1996, dan terjadi kembali pada bulan Maret 2001. Suatu golongan radikal Islam yang bernama Laskar Jihad juga menyerang orang Kristen di Maluku dan berbagai daerah lain pada tahun 1998. Para Laskar Jihad juga menyerang dengan teruk seminaris di Jawa, dan gereja di Sulawesi. (Kebetulannya saya mengenal beberapa orang yang selamat dari penyerangan-penyerangan itu.)

Pemerintahan Suharto berakhir dengan timbulnya era Reformasi di Indonesia. Beberapa kejadian mendorong kepada pengenalan semula demokrasi ala-barat. Setelah kejadian 11 September 2001 di Amerika Syarikat,3 dunia mulai menumpukan perhatian pada Indonesia yang dituduh melindungi kumpulan-kumpulan militan Islam. Penafian awal oleh Indonesia menjadi hancur apabila berlakunya letupan bom di Bali pada tahun 2002.4 Tsunami Disember 2004 yang meragut lebih 160,000 jiwa di Indonesia saja, yang disusuli dengan gempa-gempa bumi besar dalam tahun 2005, telah menyebabkan perhatian pada Indonesia berterusan. Proses reformasi telah merangkumi ciri-ciri kebebasan bicara yang lebih besar, debat politik yang lebih terbuka, peninggalan secara rasmi diskriminasi suku dan agama, dan pengenalan meritokrasi.

Kebebasan lebih besar beragama terus dicemari oleh tindakan-tindakan ekstremis orang Muslim terhadap orang Kristen. Masih terdapat banyak laporan mengenai pelecehan pada para pendeta Kristen dan paksaan menutup gereja oleh masyarakat Muslim di Jawa. Mereka merasa marah karena ada di antara mereka yang telah berpindah agama, dan terdapat orang Kristen dan gereja di kalangan mereka. Bagaimana pun, tidak terdapat hukum-hukum yang memihak Muslim lebih daripada pengikut agama yang lain. Berbeda dari Malaysia di mana orang Kristen adalah bukan-Melayu dan Melayu adalah Muslim, orang-orang Kristen Indonesia merangkumi orang dari berbagai latarbelakang etnis.

II. Permasalahan yang berbeda
Dari sudut sejarah
Kita sudah melihat bahwa Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia mempunyai kesamaan rumpun. Sebenarnya, kebanyakan orang kedua negara itu menanggap kedua bahasa itu sebagai kelainan satu bahasa, seperti mana terdapat Bahasa Inggris negeri Inggris dan Bahasa Inggris negeri Amerika. Sudah ada percobaan untuk membuat standarisasi kedua bahasa itu supaya kedua negara dapat menggunakan satu bahasa yang sama, yang dipanggil Malindo. Sungguhpun percobaan-percobaan masih di buat ke arah ini, kesemuanya semacam percuma karena nasionalisme dan kebijaksanaan politik seperti mendorong perkembangan ke arah-arah yang berlainan. Mungkin masanya akan sampai dimana kedua bahasa itu dianggap berbeda langsung, sungguhpun kesamaan rumpun. Sebelum sampainya hari itu, mereka yang menggunakan kedua bahasa ini terkena bergulat dengan kesamaan dan perbedaan yang terdapat pada keduanya. Perhatian kita tertumpu pada terjemahan Alkitab ke dalam kedua bahasa ini.

Aliran Protestan di perkenalkan di Indonesia oleh Belanda pada abad ke 16, sehingga menyebabkan wujudnya pengaruh Kalvinisme dan Lutherisme dari awal-awal lagi. Di bawah Portugis, Katholik Roma diperkenalkan ke daerah Maluku mulai tahun 1534. Fransiskus Xaverius, seorang misionaris Katholik Roma yang juga kawan pendiri orde Yesuit, melayani di Maluku dari tahun 1546 sampai 1547. Fransiskus Xaverius pernah singgah beberapa bulan lamanya di Melaka dalam tahun 1545, 1546 dan 1549. Aliran Protestan secara aktif berkembang di Malaysia mulai abad ke 19. Orang Kristen merupakan 9% jumlah penduduk, di mana mayoritas tinggal di Sabah dan Sarawak.5 Dari jumlah ini, 2% adalah Protestan dan yang lain Katholik Roma. Kuranglebih 9% penduduk Indonesia adalah Kristen, yang mana 6% adalah Protestan dan 3% adalah Katholik. Malaysia mempunyai populasi 25 juta pada tahun 2008, sementara Indonesia mempunyai populasi 240 juta pada tahun 2008.6 Orang yang mengaku diri Kristen di Indonesia melebehi mereka yang di Malaysia sebanyak 10:1 perbandingannya. Terdapat 15 juta orang Protestan di Indonesia bebanding dengan 550,000 di Malaysia, suatu perbandingan 30:1.

Injil Matius pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh misionaris Jerman, Albert Cornelisz Ruhl pada tahun 1612, setahun sesudah Alkitab versi King James. Terjemahan itu diterbitkan pada tahun 1629. Dalam terjemahan tersebut, kata “Allah” digunakan untuk mengacu kepada Sesembahan. Begitu juga halnya dalam terjemahan Alkitab Melchior Leijdeekker dalam tahun 1733, dan dalam Alkitab Melayu yang diterjemahkan oleh Hillebrandus Cornelius Klinhert dalam tahun 1879.7 Ketika William Milne berada di Melaka pada tahun 1815, salah seorang murid kelas Alkitab yang berlangsung di rumah beliau ialah Munshi Abdullah. Munshi Abdullah menghadiri kelas itu semata-mata untuk mempelajari bahasa Inggris. Milne menunjukkan kepada Abdullah senaskah Injil dalam bahasa Melayu, terjemahan lama orang Belanda. Abdullah terkagum ketika melihat terjemahan buku dalam bahasa Melayu, tetapi berpendapat bahwa terjemahan itu kurang baik. Milne mengupah Abdullah untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu dengan bayaran pengajaran bahasa Inggris secara gratis. Abdullah mengikuti terjemahan-terjemahan sebelum itu dengan menggunakan “Allah” sabagai nama Sesembahan.8

Kita telah melihat bagaimana pemerintah Malaysia meluluskan suatu hukum yang melarang percetakan, penjualan, dan pemilikan Alkitab dari Indonesia pada tahun 1980an. Larangan juga dikenakan pada penggunaan kata-kata tertentu, termasuk “Allah”, dalam konteks bukan-Muslim. Kebelakangan ini, isu-isu agama muncul lagi. Beberapa orang yang memeluk agama Islam telah meninggal, tanpa diketahui istri mereka tentang penukaran agama mereka. Jenazah mereka di ambil secara paksa oleh pihak berkuasa agama dan dikebumikan menurut tatacara Islam, menyebabkan penderitaan kepada keluarga-keluarga berkenaan. Istri-istri terlibat juga kehilangan harta warisan karena mereka bukan Muslim. Suatu isu yang lain mengenai mereka yang menganuti agama Islam yang ingin kembali ke agama asal, tetapi menghadapi kesulitan besar dalam hal ini. Selain itu, ada segelintir orang Muslim yang telah mengaku menukar agama menjadi Kristen tetapi tidak diizinkan keluar dari Islam. Isu terkini mengenai larangan penggunaan kata “Allah” dalam mingguan Gereja Katholik Roma, yang dipanggil The Herald. Uskup Agung Katholik Roma di Kuala Lumpur telah membawa isu ini ke pengadilan untuk diisytiharkan bahwa The Herald berhak menggunakan kata “Allah” dan bahwa penggunaan kata itu bukan terbatas untuk Islam saja.

Di Indonesia beberapa traktat yang berjudul “Siapakah Yang Bernama Allah Itu?” muncul dalam tahun 1999. Penulisnya memanggil diri Eliezer ben Abraham, dan penerbitnya adalah Bet Yesua Hamasiah. Traktat-traktat itu secara kuat meyarankan supaya orang Kristen tidak menggunakan “Allah” untuk mengacu kepada Sesembahan dan menggunakan “YAHWE” sebagai gantiannya. Perhatikan bahwa kata penggantian itu dieja “YAHWE” dan bukan “YAHWEH” atau “JEHOVAH” seperti biasa untuk Tetragrammaton, YHWH. Antara alasan-alasan tidak menggunakan “Allah” termasuk:

(i) Allah adalah nama dewa Arab.

(ii) Nama Sesembahan dalam Alkitab adalah YAHWE, sementara El, Eloim, dan Eloah adalah gelaran untuk Sesembahan yang sepatutnya dikuduskan.

(iii) Bahasa Ibrani telah dipilih oleh Sesembahan untuk menyatakan namaNya dan belum pernah berubah sejak zaman Musa. Nama Juruslamat sepatutnya “Yeshua Hamasiah” seperti dalam bahasa Ibrani, dan bukan “Yesus Kristus” yang merupakan terjemahan dari bahasa Yunani.

(iv) Bangsa Arab adalah keturunan Ham, dan oleh itu bahasa Arab sebenarnya bahasa Hamit dan bukannya bahasa Semit, seperti bahasa Ibrani.

Gerakan yang menerbitkan traktat-traktat tersebut berkemuncak dalam kontroversi yang ditimbulkannya di Indonesia dengan terbitnya Alkitab sendiri yang dipanggil “Kitab Suci Torat dan Injil”. Versi Alkitab itu, yang diterbitkan pada tahun 2000, menggunakan kata-kata “Eloim” untuk mengacu kepada Sesembahan, “Yahwe” untuk Kurios, dan “Yeshua Hamasiah” untuk Yesus Kristus. Kontroversi itu menyebabkan terbitnya beberapa balasan ilmiah daripada pemimpin-pemimpin gereja yang pintar.9 Sungguhpun mayoritas orang Kristen Indonesia terus menggunakan Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, di mana “Allah” digunakan untuk mengacu kepada Sesembahan, dan “Tuhan” untuk Kurios, banyak orang Kristen telah menjadi binggung mengenai isu ini.

Kita sekarang dapat melihat bahwa di Malaysia, orang Kristen sedang menuntut hak untuk menggunakan “Allah” yang mengacu kepada Sesembahan karena pemerintah mencoba memonopoli penggunaan kata itu untuk Islam, sementara di Indonesia terdapat sesetengah orang Kristen yang menolak penggunaan kata itu, mengatakan ia tidak cocok, bahkan menhujat sekiranya digunakan. Orang Kristen kedua negara mempunyai kesamaan masalah mengenai penggunaan nama “Allah” dalam Alkitab, tetapi masalah itu timbul dari keadaan yang berbeda. Alasan remeh yang boleh ditujukan kepada orang Kristen Indonesia adalah bahwa mereka sepatutnya menghargai peluang menggunakan kata itu dalam perbendaharaan kata agama mereka memandangkan masalah yang dihadapi orang Kristen di Malaysia terhadap penggunaannya. Alasan remeh yang boleh ditujukan kepada orang Kristen Malaysia adalah bahwa sekiranya orang Kristen Indonesia menghadapi masalah pengunaan kata “Allah” itu, bukankah baik kita langsung jangan menggunakannya?

Dari sudut tatabahasa
Oleh karena permasalahan telah muncul dari penggunaan kata “Allah”, adalah baik dan perlu kita memeriksa semula kewajaran menggunakan kata itu. Harus dinyatakan dari awal-awal lagi bahwa semua orang Kristen sepatutnya berterima kasih atas kerja keras misionaris masa lampau, dan atas hasil kerja keras mereka melewati ratusan tahun yang lepas. Kami sepatutnya menghargai kesulitan besar yang dihadapi para misionaris masa lampau dalam pemilihan kata-kata yang sesuai, belum dihitung kerja penterjemahan. Perubahan janganlah dibuat tanpa alasan-alasan yang kukuh. Saranan-saranan perubahan harus dihuraikan dan didukung dengan alasan-alasan kuat, dan bukannya berasaskan pendapat atau pengakuan yang tidak benar dan kenyataan yang mengelirukan. Begitu juga, apa-apa perselisihan pendapat mengenai mana-mana saranan perubahan mesti didukung dengan alasan-alasan kukuh dan janganlah merupakan ledakan emosi dan caci-mencaci, atau memfitnah orang yang tidak disetujui kita.

Kita telah melihat, dari sudut sejarah, bahwa misionaris pertama ke Indonesia menggunakan “Allah” dalam terjemahan Alkitab bahasa Melayu dan praktek itu diikuti sehingga sekarang. Versi-versi Alkitab baru yang diterbitkan di Indonesia dan Malaysia masih menggunakan “Allah” untuk God, dan “Tuhan” untuk Lord. Kata “Allah” digunakan untuk menerjemahkan Elohim, iaitu kata jamak El dan Eloah, yang merupakan nama-nama umum untuk keilahan, yang sama dengan “god” (dieja dengan “g” kecil). Apabila bentuk tunggal El digabungkan dengan perkataan-perkataan lain, ia mangacu kepada Sesembahan yang tunggal dan benar, contohnya El Shaddai (Sesembahan yang Mahakuasa, Kej. 17:1), El Olam (Sesembahan yang Kekal, Kej. 21:33), El Bethel (Sesembahan Bethel, Kej. 31:13). Dalam kesemua kasus ini, Alkitab menggunakan “Allah” sebagai terjemahannya. Selain itu, “Allah” digunakan untuk menerjemah Sesembahan dalam bahasa Ibrani, iaitu Adonai.

Untuk kata Yunani Perjanjian Baru Theos, “Allah” digunakan untuk mengacu kepada Sesembahan yang tunggal dan benar. Perkataan untuk “Lord” (Kurios) diterjemahkan sebagai “Tuhan” apabila mengacu kepada Yesus Kristus. Perkataan “TUHAN” (dieja dengan huruf besar seluruhnya) digunakan untuk menerjemahkan Tetragramaton YHWH. Akan tetapi, apabila YHWH terdapat bersama dengan Adonai, seperti dalam Yesaya 50:4, YHWH dijadikan “ALLAH” (dalam huruf besar seluruhnya). Ini adalah karena “Tuhan ALLAH” kedengaran lebih baik dari terjemahan yang aneh, “Tuhan TUHAN”. Maka Tetragramaton YHWH biasanya diterjemahkan sebagai “TUHAN”, dan sebagai “ALLAH” apabila itu dianggap lebih cocok.

Beberapa permasalahan tatabahasa muncul dari penggunaan “Allah”, “ALLAH”, “Tuhan”, dan “TUHAN” dalam Alkitab. Kita harus mengerti bahwa kata “Allah” diambil dari bahasa Arab yang sebenarnya ialah gabungan “ilaah”, bermaksud “sesembahan”, dengan kata sandang “al” sehinggalah bererti “sesembahan itu”, dan oleh itu Sesembahan yang tunggal, benar, dan hidup. Ini boleh dibandingkan dengan “Al-kitab”, yang bermaksud “Buku itu”, iaitu Kitab Suci. Dalam bahasa Inggris, perkataan “god” adalah kata umum (“generic word”), dan “God” adalah kata benda nama diri (“proper noun”). Apabila diadopsi oleh bahasa Melayu, “Allah” bukan lagi menjadi kata benda nama diri yang berasal dari suatu kata umum. Malahan ia menjadi nama diri untuk Sesembahan, seperti mana YHWH ialah nama diri untuk Sesembahan dalam bahasa Ibrani. Sesuatu kata umum (“generic word”) boleh dijadikan kata benda nama diri (“proper noun”), tetapi tidak sebaliknya. Contohnya, kita mungkin berkata, “Ayah, engkaulah ayah yang terbaik dalam dunia!” Kita tidak mungkin berkata, “Yohanes, engkaulah yohanes yang terbaik dalam dunia!”

Dalam bahasa Melayu, “allah” dan “ilaah” bukanlah kata-kata umum untuk “sesembahan”. Kata sifat “ilahi” ada digunakan, dengan erti keilahan, tetapi tidak kata nama “ilah”. Contohnya, kita tidak mungkin berkata, “Salah satu allah orang Hindu ialah Subramaniam.” Kita juga tidak mungkin berkata, “Salah satu ilah orang Hindu ialah Subramaniam.” Kita mungkin kata, “Salah satu dewa orang Hindu ialah Subramaniam.” Perkataan “dewa” tidak cocok digunakan oleh orang Kristen karena terdapat konotasi gambaran yang ternampak, iaitu suatu berhala atau patung. Terdapatkah kata umum untuk “god” dalam bahasa Melayu yang boleh diacukan kepada semua “sesembahan” yang sesuai digunakan juga oleh orang Kristen? Ya, kata itu “tuhan”. Apabila digunakan oleh orang Kristen, perkataan itu akan dieja “Tuhan” (dengan huruf besar “T”) karena kita mengacu kepada Sesembahan yang tunggal dan benar.

Akan tetapi, dalam Alkitab perkataan “Tuhan” telah digunakan untuk menerjemahkan “Lord” (kurios dalam bahasa Yunani), dan “TUHAN” untuk “LORD” (YHWH dalam bahasa Ibrani). Jika kita ikut versi-versi Alkitab bahasa Inggris, dan versi-versi Alkitab bahasa Arab, suatu perkataan yang bermaksud “Lord” (iaitu tuan, seorang yang berkuasa) perlu digunakan. Dalam Alkitab bahasa Arab, perkataan Allaah digunakan untuk “God” (dan ilaah jika digunakan bersama kata ganti kepunyaan, iaitu “possessive pronoun”), dan perkataan rabb untuk “Lord”. Berikut adalah terjemahan ayat-ayat dalam bahasa Arab:10

Matius 4:10, Tuhan, Allahmu --- lir-rabbi ilaahika

Yohanes 20:28, Ya Tuhanku dan Allahku! --- rabbi wa-ilaahi

Kisah 2:34, Tuhan telah berfirman kepada Tuanku ---qaala ‘r-rabbu li-rabbi

Kisah 2:36, Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus --- Allaaha ja’ala yasuu’a haadha ‘illadhi Salaabtumuuhu antum rabban wa-masiiHan

Ulangan 6:13, TUHAN, Allahmu --- ar-rabba ilaahaka

Mazmur 7:1, 3, Ya TUHAN, Allahku --- ya rabbu ilaahi

Kita dapat melihat bahwa Alkitab bahasa Arab menggunakan “Allaah” untuk Allah dan “rabb” untuk Tuhan. Perkataan untuk “Tuhan” dalam Alkitab Arab janganlah dikelirukan dengan perkataan “rabbi”, yang bererti “guru” dalam bahasa Ibrani, seperti yang terdapat dalam Yohanes 1:38, contohnya. Alkitab bahasa Arab hanya mentransliterasi perkataan “rabbi” di mana-mana ia muncul. Oleh karena “Allaah” berasal dari kata umum “ilaah” (yang kata jamaknya ialah “aaliha”), tidak ada masalah yang terjadi apabila kata-kata umum “sesembahan” muncul. Ini dapat dilihat pada terjemahan ayat-ayat berikut dalam Alkitab bahasa Arab:

Ulangan 6:14-15, Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa sekelilingmu, sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu, terhadap engkau, sehingga Ia memusnahkan engkau dari muka bumi.

Laa tasiiru waraa’ aalihatin ukhratin min aalihati’l-umami ‘llati Hawalakum li’anna ‘r-rabba ilaahakum ilaahun ghayuurun fii waStikum li’alla yahma ghaDabu ‘r-rabbi ilaahikum ‘alaykum fayubiidakum ‘an wajhi ‘l-arDi.

2 Korintus 4:4, ...yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini... ...Kristus, yang adalah gambaran Allah.

Alladhiina fiihim ilaahu haadha ‘d-dahri qad a’ma adhhaana ghayri ‘l-mu’minniina... ...al-masiiHi ‘l-ladhi huwa Suuratu ‘l-laahi.

Alkitab menggunakan perkataan “allah” sebagai terjemahan untuk “sesembahan” dalam Ulangan 6:14, dan “ilah” untuk “sesembahan” dalam 2 Korintus 4:4. Ternyata terdapat ketidak konsistenan disini. Lagi pun, dalam kamus standar Bahasa Indonesia atau Bahasa Malaysia, perkataan “allah” (dieja dengan huruf kecil seluruhnya) tidak ada diketemukan, sementara perkataan “ilah” diberikan maksud “Tuhan, yang disembah, dalam bahasa Arab”. Adalah jelas perkataan “allah” bukan suatu kata umum untuk “sesembahan” dalam bahasa Melayu dan, oleh itu, tidak didaftarkan dalam kamus. Mungkin suatu masa akan sampai di mana “allah” dan “ilah” diadopsi ke dalam bahasa Melayu, tetapi itu masih belum berlaku. Oleh karena “allah” maupun “ilah” bukanlah kata-kata umum untuk “sesembahan”, kesulitan kelihatan telah dihadapi para penterjemah Alkitab. Satu contoh lagi adalah 1 Korintus 8:5, di mana kita dapati:

1 Korintus 8:5, Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah”, baik di sorga, maupun di bumi - dan memang benar ada banyak “allah” dan banyak “tuhan” yang demikian...

Dalam bahasa Inggris,
1 Corinthians 8:5, For even if there are so-called gods, whether in heaven or on earth (as there are many gods and many lords)...

Jika perkataan “tuhan” digunakan untuk “god”, tentu tidak akan timbul permasalahan dalam terjemahan ayat-ayat ini. Perkataan “tuhan” bererti “sesembahan” dan perkataan “tuan” bererti “dia yang berkuasa”. Sering orang beranggapan bahwa “tuhan” adalah suatu perbedaan dari “tuan” karena perkataan itu telah digunakan untuk kurios (dalam bahasa Yunani) dalam Alkitab. Sejauh pengetahuan saya, kedua perkataan itu tidak ada apa-apa hubungan etimologi. Hanya ada mirip pengucapan di antara mereka saja. Jika “tuhan” digunakan untuk “god” dalam Alkitab, maka perlulah kita mencari satu lagi perkataan untuk menerjemahkan “Lord” (kurios dalam bahasa Yunani). Kita akan membincang hal ini di bawah. Disini, kami hanya ingin menunjukkan bahwa “tuhan” ialah suatu kata umum yang bererti “sesembahan” (“god”), dan oleh itu sesuai untuk digunakan dalam Alkitab. Dengan itu, perkataan untuk “God” adalah “Tuhan”.

Dari sudut teologi
Penulis-penulis lain telah menunjukkan bahwa bahasa Arab bukanlah bahasa Hamit seperti dikatakan sesetengah orang, tetapi bahasa Semit.11 Selain itu, bahasa Ibrani tidak pernah tidak berubah sejak berabad-abad tetapi telah dipengaruhi oleh loghat dan bahasa lain, termasuklah bahasa Aram dan bahasa Arab. Sebagian Perjanjian Lama sebenarnya ditulis dalam bahasa Aram. Orang Yahudi zaman Kristus sebenarnya berbicara dalam bahasa Aram, iaitu suatu loghat Ibrani, dan juga dalam bahasa Yunani, iaitu bahasa rasmi Kerajaan Roma. Apa yang disebut “bahasa Ibrani” dalam Perjanjian Baru sebenarnya adalah bahasa Aram, iaitu loghat yang digunakan oleh Kristus dan para rasul, contohnya Yohanes 5:2;19:20; Kisah 21:40; 22:2.

Pertanyaan sama ada “Allah” itu dewa yang disembah orang Arab sudah dijawab oleh penulis-penulis yang berkaliber, yang menunjukkan bahwa sungguh pun ada golongan orang Arab yang menyembah dewa itu dalam sejarah mereka, terdapat juga aliran orang Arab yang lain yang menyembah “Allah” sebagai Sang Pencipta.12 Lagi pun, orang Yahudi dan orang Kristen telah menggunakan perkataan “Allah” untuk mengacu kepada Sesembahan sangat lama sebelum kebangkitan Islam. Maka adalah tidak tepat dari sudut sejarah untuk menyatakan bahwa orang Kristen Arab telah meminjam perkataan itu dari orang Muslim. Dari sudut tatabahasa, “Allah” adalah perkataan bahasa Arab untuk Sesembahan dan boleh digunakan oleh sesiapa pun.

Dari sudut teologi, adakah “Allah” orang Muslim sama dengan Sesembahan orang Kristen dan orang Yahudi? Perjanjian Lama dianggap penyataan (wahyu) dari Sesembahan oleh orang Kristen dan juga orang Yahudi. Sesembahan yang dinyatakan dalam Perjanjian Lama adalah sama dengan Sesembahan yang dinyatakan dalam Perjanjian Baru. Orang Kristen menganggap pengertian orang Yahudi mengenai oknum Sesembahan belum utuh, karena tidak dapat menjangkau monoteisme yang mutlak untuk memeluk pengertian ketritunggalan Sesembahan. Kita bukan menyatakan bahwa orang Yahudi akan terselamat tanpa iman didalam Kristus. Kita hanya menyatakan bahwa pengertian mereka mengenai oknum Sesembahan yang berasal dari Perjanjian Lama itu adalah benar, sungguh pun tidak utuh.

Berbeda perkaranya apabila kita membincang tentang sesembahan agama Islam. Orang Kristen Injili tidak menganggap Al-Quran sebagai penyataan dari Sesembahan sungguh pun dalam diskusi akademik, Islam dikelompokkan bersama agama Yahudi dan agama Kristen sebagai agama monoteis dan agama samawi (agama wahyu). Doktrin hanya otoritas Alkitab (“the sole authority of Scripture”) memerlukan pengertian bahwa penyataan Sesembahan berakhir dengan penyelesaian buku Wahyu. Oleh karena Al-Quran bukan penyataan Sesembahan, sesembahan yang dinyatakan didalamnya adalah tidak sama dengan Sesembahan Alkitab. Apa-apa serpihan kebenaran mengenai Sesembahan yang terdapat di dalam Al-Quran adalah sisa-sisa kasihkarunia umum (“common grace”) Sesembahan seperti yang terdapat pada penyataan umum (“general revelation”). Orang Muslim, seperti juga orang-orang yang tidak mempunyai penyataan khusus (“special revelation”) Kitab Suci, sedang “menjamah Sang Pencipta, supaya menemukan Dia” (Kisah 17:24-28; Roma 1:18-25). Sungguh pun Al-Quran mendakwa memiliki kebenaran ternyata, termasuk sesembahan monoteis seperti dalam agama Yahudi dan Kristen, tidaklah bermaksud ianya lain dari apa sebenarnya - tulisan yang tidak diilhamkan, dan oleh itu ia bukanlah Kitab Suci.

Cerita mengenai Hagar dan Ismail dalam buku Kejadian telah diberikan kepentingan yang terlebih untuk mendukung pendapat bahwa Sesembahan akan memberkati keturunan Ismail, iaitu bangsa Arab, dan dengan itu pengikut agama Islam. Adalah didakwa bahwa Sesembahan telah membuat perjanjian dengan Hagar dan keturunannya, untuk memberkati mereka seperti mana Dia akan memberkati keturunan Sara. Tercatat dalam Kejadian 16:10, ‘Lagi kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya.”’ Permasalahan yang terdapat pada pemikiraan semacam ini adalah banyak. Pertama, bukan semua orang Arab adalah keturunan Ismail. Malahan, mereka adalah campuran kaum-kaum pelbagai keturunan. Pendiri agama Islam kebetulan berasal dari satu antara banyak suku orang Arab yang berbagai keturunan. Kedua, anggapan telah dibuat bahwa karunia yang dijanjikan kepada keturunan Hagar adalah dalam bentuk agama Islam yang ternyata. Ketiga, terdapat pelalaian tidak mengambil kira penjelasan Alkitab mengenai penggenapan perjanjian Sesembahan kepada Ishak berlawanan dengan perjanjian yang dibuat dengan Ismail. Adalah dijelaskan dalam Galatia 3:26-29 dan 4:21-31 bahwa ahli waris yang benar perjanjian kepada Abraham adalah mereka yang dilahirkan oleh Roh, melalui iman di dalam Kristus. Mereka yang tidak bersatu dengan Yesus dalam iman adalah keturunan Ismail. Oleh itu, dari sudut teologi, adalah tidak wajar membuat tuntutan karunia perjanjian untuk keturunan rohaniah Ismail, apa lagi untuk keturunan jasmaniahnya.

Perkataan “Allah” boleh digunakan sebagai kata yang menagacu kepada Sesembahan, tetapi “Allah” yang diajar dalam Al-Quran bukanlah Sesembahan Alkitab. Orang Muslim sedang mencari Allah, tetapi “Allah” yang mereka sembah itu bukannya Sesembahan yang benar (bandingkan dengan Kisah 17:22-23).

III. Penyelesaian Yang Diusulkan
Kita telah mencoba untuk mengerti keadaan sejarah, tatabahasa dan teologi sekitar penggunaan kata “Allah” dalam Alkitab. Alasan-alasan untuk menggunakan “Allah” dalam Alkitab termasuk:

(i) “Allah” diketahui dari sumber Kristen dan Yahudi negeri Arab sebagai Sesembahan yang tunggal lama sebelum bangkitnya Islam. Bahasa Arab dan bahasa Ibrani adalah bahasa-bahasa Semit dan tidaklah mengherankan terdapat persamaan kata dalam kedua bahasa. Contohnya, kedua bahasa, Arab dan Ibrani, menggunakan kata “nabi”. Orang Kristen negeri Arab menggunakan “Allah” dan “nabi” menurut pengertian yang terdapat pada bahasa Ibrani Alkitab dan orang Muslim negeri Arab menggunakan “Allah” dan “nabi” menurut pengertian yang terdapat dalam bahasa Arab Al-Quran.

(ii) Perbendaharaan kata orang Kristen di negeri-negeri Arab seperti Mesir dan Siria telah berkembang mengikut aliran yang berbeda sehinggalah erti kata-kata, termasuk “Allah”, adalah khusus kekristenan sungguh pun digunakan juga oleh orang Muslim.

(iii) Gereja di Indonesia telah berleluasa lebih lama dari yang di Malaysia sehinggalah suatu kelompok kata Kristen, termasuk “Allah”, telah digunakan sehari-hari. Oleh karena bahasa Indonesia dan bahasa Melayu boleh dikatakan satu bahasa, maka wajarlah orang Kristen Malaysia menggunakan “Allah” juga.

Penggunaan sesuatu bahasa bukan hak istimewa mana-mana suku manusia. Suku dan agama yang lain juga berhak seperti orang Melayu dan Muslim untuk menggunakan bahasa Melayu. Ini suatu perkara yang diterima oleh orang Indonesia, tetapi tidak oleh orang Melayu Malaysia. Orang Muslim Malaysia beranggapan bahwa “Allah” itu adalah khusus sesembahan agama Islam dan penggunaan kata itu dalam konteks bukan-Muslim akan menimbulkan kekeliruan. Orang Kristen di Malaysia pada umumnya beranggapan bahwa tidak wajar mereka menunduk kepada tekanan pihak pemerintah dan masyarakat Muslim untuk tidak menggunakan “Allah”. Kebebasan beragama terjamin dalam Perlembagaan negara, dan itu merangkumi penggunaan kata-kata apa jua dalam bahasa apa jua dalam pengamalan agama apa jua. Penyerahan kepada tekanan pada waktu sekarang akan membawa kepada lebih lagi percobaan menyekat kebebasan asasi orang Kristen kemudian. Pada waktu ini, banyak negeri di Malaysia telah meluluskan hukum yang melarangkan penyebaran agama yang lain kepada orang Muslim. Ini dengan sendirinya suatu pembatasan terhadap hak-hak orang Kristen, karena penyebaran injil kepada semua bangsa adalah suatu perintah Alkitab.

Pada bulan Disember 1986 saya telah menulis seperti berikut:13

Saya bersetuju membuat pendirian terhadap percobaan-percobaan Pemerintah untuk membatas kebebasan asasi orang Kristen. Bagaimana pun, saya bimbang bahwa tahun-bertahun sedang berlalu dan kebutuhan Gereja untuk menggunakan Bahasa Malaysia (iaitu bahasa Melayu) secara bebas belum lagi dipenuhi. Ingatlah, lima tahun sudah berlalu sejak timbulnya permasalahan ini. Sekiranya hal kebebasan menggunakan sesetengah kata bahasa Melayu dihadapkan ke pengadilan untuk diselesaikan di sana, saya yakin orang Kristen akan menang, dengan anggapan bahwa hukum dibiarkan berbuat sekehendaknya. Akan tetapi, betapa teruk akibatnya! Kasus itu mungkin berlarutan, entah berapa tahun lamanya, sebelum diselesaikan. Sementara itu, kebimbangan dan kegelisahan akan terjadi pada banyak orang. Dan kemajuan Injil di kalangan generasi muda Malaysia akan terus tergendala.

Dua puluh-dua tahun lagi telah melewati sejak kenyataan itu diterbitkan, menjadikan sebanyak 27 tahun semua sekali! Berapa lama lagi kita sanggup membiarkan permasalahan ini berterusan? Menuntut hak kami dari sudut pengadilan adalah suatu hal. Dihalang menggunakan Alkitab bahasa Melayu dan buku-buku Kristen bahasa Melayu adalah suatu hal yang lain, yang pada pendapat saya adalah lebih serius. Oleh itu, saya mengemukakan pendapat supaya TIDAK menggunakan “Allah” dalam konteks Kristen, bukan karena kita tiada hak menggunakannya, tetapi karena alasan-alasan berikut:

(i) Perkatan “Allah”, apabila diadopsi ke dalam bahasa Melayu, menjadi kata benda nama diri yang bukan berasal dari kata benda umum. Berbeda dari bahasa Arab, perkataan “allah” dan “ilah” bukanlah kata-kata benda dalam bahasa Melayu. Oleh sebab itu, perkataan “Allah” bukan terjemahan yang sesuai untuk Elohim dan Theos dalam Alkitab.

(ii) Berbeda dari Alkitab bahasa Arab, di mana perkataan “rabb”, yang bererti “Tuan”, di gunakan untuk YHWH dan Kurios, Alkitab menggunakan “TUHAN” dan “Tuhan” untuk perkataan-perkataan ini. Perkataan “tuhan” sebenarnya adalah kata benda umum dan istilah umum untuk “sesembahan” (“god” dalam Bahasa Inggris). Adalah lebih cocok menggunakan perkataan ini sebagai gantian “Allah” dalam terjemahan Elohim dan Theos.

(iii) Perkataan “Allah” telah dikaitan secara umum dengan agama Islam pada masa kini. Tanyakan sesiapa saja dalam dunia siapakah dia “Allah” menurut pengertiannya, kemungkinan besar kamu akan mendapat jawaban, “Sesembahan orang Muslim.” Nampaknya ini suatu sebab mengapa golongan Kristen tertentu di Indonesia menolak penggunaan nama ini berbanding dengan nama-nama yang lain. Sungguh pun perkataan “Allah” telah lama digunakan sebelum kebangkitan Islam, perkataan itu seperti telah dirampok oleh agama tersebut. Orang Muslim pada umumnya tidak setuju menerjemahkan kitab suci mereka ke dalam bahasa-bahasa yang lain sehinggalah perkataan “Allah” itu tidak dapat dipisahkan dari Al-Quran. Lagi pun, semakin jumlah manusia dalam dunia bertumbuh secara eksponen, jumlah orang Muslim akan bertambah sesuai dengan itu. Orang Muslim berpegang kepada perkembangan secara biologis. Ini bermaksud “Allah” akan dikaitkan lebih lagi dengan orang Muslim.

(iv) Prinsip alkitabiah bahwa orang Kristian tidak seharusnya menuntut hak-hak mereka demi kepentingan orang yang lemah imannya terpakai di sini (Roma 14:1, 13; 1 Korintus 6:12; 10:23). Orang Muslim di mana-mana saja, bukan saja di Malaysia, merasa gelisah karena agama suci mereka seakan-akan dinajiskan oleh orang bukan-Muslim (orang kafir) - termasuklah Al-Quran bahasa Arab dipegang oleh orang bukan-Muslim, mengambarkan nabi Muhammad, menggunakan simbol bulan sabit pada kubah masjid selepas bulan terinjak orang bukan-Muslim, dan pengunaan perkataan “Allah” dalam konteks bukan-Muslim. Mengapa mesti orang Kristen yang bahasa asli mereka bukan bahasa Arab menyebabkan kegelisahan pada orang Muslim karena menuntut hak menggunakan perkataan “Allah”?

(v) Sekiranya ada sesuatu yang perlu diperjuangkan, biarlah untuk kebebasan suara hati, kebebasan beragama, kebebasan bicara, dan kebebasan bersatu, bagi semua orang. Kesemua ini adalah kebebasan asasi yang diakui semua masyarakat beradaban, yang termaktub dalam Perlembagaan Malaysia. Bagaimana pun, hak-hak ini tidak dipraktek secara konsisten karena tuntutan berlawanan dari pihak-pihak yang mementingkan diri. Hukum-hukum yang buruk perlu dikaji semula dan diperbaiki, atau digantikan dengan yang baik. Setiap orang sepatutnya diberi kebebasan untuk mempercayai, mempraktek, dan menyebarkan kepercayaannya tanpa ketakutan, paksaan, atau pelanggaran kebebasan orang lain. Perselisihan pendapat boleh didebat atau dilawan dengan bujukan rasional tanpa menggunakan kekerasan, ancaman, atau paksaan. Iman yang benar berdasar pada pengetahuan dan keyakinan kebenaran, bukan tradisi, prejudis, atau ketakutan.

Jika perkataan “Tuhan” digunakan dan bukannya “Allah” untuk menerjemahkan Elohim dan Theos, kita memerlukan suatu perkataan yang lain untuk menerjemahkan YHWH dan Kurios. Sesuai dengan Alkitab dalam bahasa Inggris, bahasa-bahasa Eropa yang lain, dan juga bahasa Arab, suatu perkataan yang bererti “tuan” diperlukan. Perkataan “tuan”, yang sebenarnya berbeda dari “tuhan”, boleh digunakan. Akan tetapi, kekeliruan akan muncul karena kesamaan pengucapan kedua perkataan itu. Dari sudut teologi, perkataan Kurios membawa implikasi keilahan apabila diacukan kepada Yesus Kristus. Malahan, Dia adalah “Raja segala raja dan Tuan segala tuan” (Wahyu 19:16). Suatu perkataan yang mungkin sesuai adalah “tuanku”, iaitu suatu gelaran kerabat. Akan tetapi, gelaran ini masih dipakai secara meluas dikalangan orang kerabat sampai sekarang. Suatu perkataan yang lebih kuat, yang membawa pengertian “raja, tuan yang tertinggi” adalah cocok.

Di Malaysia, raja dikenali dengan gelaraan “Yang Dipertuan Agung” yang membawa erti literal, “Dia Yang Dianggap Tuan Paling Tinggi”, atau secara ringkas, “Baginda Raja”. Adalah susah menggunakan istilah yang mempunyai enam suku kata ini untuk mengacu kepada Yesus Kristus. Adakah perkataan yang lain yang sama ertinya dengan “Yang Dipertuan Agung”? Ya, dalam bahasa Melayu, “Yamtuan” adalah sama dengan “Yang Dipertuan Agung”. Perkataan ini sesuai untuk digunakan untuk Yesus Kristus. Oleh sebab ini perkataan dua suku kata yang bunyi akhirnya sama dengan “Tuhan”, nyanyian-nyanian yang ada masih boleh digunakan dengan sedikit saja pemindaan. Tidak ada kesulitan soal hukum terbabit dengan pengunaan perkataan ini, berbeda dengan gelaran “Yang Dipertuan Agung”. Sudah tentu, di mana kurios digunakan tanpa implikasi keilahan, perkataan “tuan” harus digunakan, contohnya Matius 13:27; Yohanes 4:11. (Alkitab kurang tepat menggunakan “Tuhan” di Yohanes 4:11.)

Dengan menggunakan kata-kata penggantian ini ayat-ayat yang telah kami petik sejauh ini, termasuk beberapa petikan yang lain, akan berbunyi seperti berikut:

Matthew 4:10, ...the LORD your God...
Matius 4:10, ...YAMTUAN, Tuhanmu...

John 20:28, ...My Lord and my God!
Yohanes 20:28, ...Ya Yamtuanku dan Tuhanku!

Acts 2:34, ...The LORD said to my Lord...
Kisah 2:34, ...YAMTUAN telah berfirman kepada Yamtuanku...

Acts 2:36, ...God has made this Jesus, whom you crucified, both Lord and Christ.
Kisah 2:36, ...Tuhan telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Yamtuan dan Kristus.

Deut. 6:13 ...the LORD your God...
Ulangan 6:13, ...YAMTUAN, Tuhanmu...

Psalm 7:1, 3, O LORD my God
Mazmur 7:1, 3, Ya YAMTUAN, Tuhanku...

Deut. 6:14-15, You shall not go after other gods, the gods of the peoples who are all around you (for the LORD your God is a jealous God among you), lest the anger of the LORD your God be aroused against you and destroy you from the face of the earth.
Ulangan 6:14-15, Janganlah kamu mengikuti tuhan lain, dari antara tuhan bangsa-bangsa sekelilingmu, sebab YAMTUAN, Tuhanmu, adalah Tuhan yang cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka YAMTUAN, Tuhanmu, terhadap engkau, sehingga Ia memusnahkan engkau dari muka bumi.

2 Cor. 4:4, ...whose minds the god of this age has blinded... ...Christ, who is the image of God...
2 Kor. 4:4, ...yang pikirannya telah dibutakan oleh tuhan zaman ini... ...Kristus, yang adalah gambaran Tuhan.

1 Cor. 8:5, For even if there are so-called gods, whether in heaven or on earth (as there are many gods and many lords)...
1 Kor. 8:5, Sebab sungguhpun ada apa yang disebut tuhan, baik di sorga, maupun di bumi - dan memang benar ada banyak tuhan dan banyak yamtuan yang demikian...

Matthew 13:27, ...Sir, did you not sow good seed in your field?
Matius 13:27, ...Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan?

John 4:11, ...Sir, You have nothing to draw with, and the well is deep.
Yohanes 4:11, ...Tuan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam.

Deuteronomy 10:17, For the LORD your God is God of gods and Lord of lords, the great God, mighty and awesome, who shows no partiality nor takes a bribe.
Ulangan 10:17, Sebab YAMTUAN, Tuhanmulah Tuhan segala tuhan dan Yamtuan segala yamtuan, Tuhan yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu atau pun menerima suap.

Revelation 17:14 (also 19:16), ...for He is Lord of lords and King of kings...
Wahyu 17:14 (19:16), ...karena Ia adalah Yamtuan segala yamtuan dan Raja segala raja...

Kesimpulan
Perkataan “Allah” adalah asli dalam bahasa Arab tetapi bukan dalam bahasa Melayu. Sungguh pun orang Kristen Arab tidak menghadapi masalah menggunakannya untuk mengacu kepada Sesembahan, tidak begitu dengan orang Kristen di Indonesia dan Malaysia. Alkitab menggunakan “Allah” untuk God dan “Tuhan” untuk Lord. Terdapat kesulitan tatabahasa dan teologi dalam penggunaan perkataan-perkataan ini. Adalah diusulkan supaya perkataan “Tuhan” digunakan untuk God, dan perkataan “Yamtuan” digunakan untuk Lord. Perkataan-perkataan ini lebih tepat dari sudut tatabahasa dan teologi. Penggunaan perkataan-perkataan ini akan dapat mengatasi perasaan tidak senang dikalangan kelompok Kristen tertentu di Indonesia, dan meredakan kegelisahan orang Muslim di Malaysia.

Agama Kristen telah merebak dan berkembang secara lebih leluasa di Indonesia berbanding dengan di Malaysia. Suatu perbendaharaan kata Kristen yang kuat telah terbentuk di Indonesia, yang pada sebagian besarnya telah diikuti orang Kristen Malaysia. Alkitab dan juga buku-buku yang lain telah diimpor dari Indonesia ke Malaysia, meski pun terdapat batasan penggunaan hanya untuk orang Kristen di Malaysia. Kita telah melihat bahwa bilangan orang Kristen Indonesia berbanding dengan orang Kristen Malaysia adalah 10:1, dan bilangan Protestan Indonesia berbanding dengan yang di Malaysia adalah 30:1. Oleh sebab semua alasan ini, gereja di Indonesia dengan jelas adalah “abang” kepada gereja di Malaysia. Supaya perkataan-perkataan yang diusulkan di sini berjaya digunakan dalam Alkitab, terkena ada dukungan dan inisiatif dari gereja di Indonesia.

Apa kalau tidak ada dukungan dan inisiatif dari orang Kristen di Indonesia? Orang Kristen Malaysia akan tidak ada pilihan selain berganjak terus untuk menggunakan perkataan-perkataan yang diusulkan. Ini pun dengan anggapan bahwa orang Kristen Malaysia yakin akan kecocokan perkataan-perkataan penggantian ini, dan terasa betapa pentingnya Alkitab dan buku-buku Kristen tersedia dengan bebas, tanpa dihalang permasalahan sekarang. Oleh sebab kepentingan politik dan nasionalisme, bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu sekarang berkembang dalam arah yang berbeda.14 Adalah untuk kebaikan kerja injil di rantau ini jika orang Kristen di Indonesia dan Malaysia mempunyai perbendaharaan kata agama yang sama. Akan tetapi, jika itu tidak mungkin terjadi, perkembangan injil di Malaysia perlu diutamakan.

“Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun jemaat Tuhan. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat (1 Korintus 10:31-32).”15


Rujukan:
1. Internal Security (Prohibition of Documents) No. 3, Order 1982 (KHEDN:0.59/3/9Jld 4-PN(PU 2) 24 Pt II), tanggal tercatat 2 Dis. 1981.

2. Diluluskan di Terengganu pada 11 June 1980 (SUK. TR(S) 307; PU N. TR. 15/73). Diluluskan di Kelantan pada 1 Dis. 1981 (SUK. (KN)60/81; PU. KN 370).

3. Dalam peristiwa September 11 (yang biasanya dirujuk sebagai 9/11), suatu rangkaian serangan dibuat oleh kumpulan perusuh Al-Qaeda terhadap beberapa sasaran di Amerika Syarikat. Dua buah pesawat terbang perdagangan dirampok dan sengaja dihempaskan pada Menara Kembar Pusat Dagangan Sedunia di Kota New York. Pesawat yang ketiga dihempaskan pada Pentagon. Pesawat keempat gagal mengenai sasarannya. Kuranglebih 3,000 orang maut dalam serangan-serangan ini.

4. Pada 12 Oktober 2002, tiga butir bom meletup di pulau pelancongan Bali, Indonesia, dan meragut 202 jiwa, dimana 164 daripada itu adalah warga asing. Kumpulan ekstremis Islam, Jemaah Islamiah, dipertanggungjawabkan.

5. The World Fact Book, < https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/print/my.htrr >.

6. Wikipedia, < http://en.wikipedia.org/wiki/Protestantism_by_country#By_country >.

7. "A Bird's Eye View of the History of the Malay Bible Translation", by Dr. Daud Soesilo,
www.ghmag.net < http://www.bible.org.my/updates/body.php?id=55 >.

8. "Munshi Abdullah's Malay Dilemma", < http://www.sabrizain.org/malaya/malays3.htm >.

9. Lihat, contohnya: (i) Siapakah Yang Bernama Allah Itu? by Herlianto, PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2005; (ii) Siapakah Nama Sang Pencipta? by Samin H. Sitohang, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2003; (iii) Menuju Dialog Teologis, by Bambang Noorsena, Penerbit ANDI, Yogyakarta, 2001.

10. Saya terhutang budi kepada "elroy" dari WordReference Forums, untuk transliterasi dari Alkitab bahasa Arab, < http://forum.wordreference.com/index.php >.

11. Lihat Herlianto, Bab 3 & 5.

12. sama, Chap. 5.

13. "Bahasa Malaysia Christian Terms", oleh Poh Boon Sing, untuk edaran peribadi saja, Dec. 1986.

14. Lihat Herlianto, catatan, h. 100: Tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, terdapat 1,495 kata bahasa Arab (termasuk kata “Allah”), 1,610 bahasa Inggris dan 3,280 bahasa Belanda, yang menjadi kata-kata bahasa Indonesia. Dalam bahasa Melayu di Malaysia, terdapat sanggat sedikit kata-kata yang berasal dari bahasa Belanda. Malahan, kata-kata yang berasal dari bahasa Inggris yang banyak.

15. Kutipan Alkitab adalah dari: (i) versi New King James, Thomas Nelson, Inc.; (ii) Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia; (iii) Alkitab bahasa Arab terjemahan Van Dyke.